Langsung ke konten utama

Earning Power Effect: Ketika Garis Start Kehidupan Berbeda Sejak Lahir‎


‎Sebagai orang yang cukup sering ngopi, saya pernah terbersit satu dialek. Berawal dari lingkungan kerja, cerita dari mulut ke mulut, soal perjalanan hidup. Lebih tepatnya menjalani hidup sebagai orang dewasa. Mulai dari urusan tempat tinggal, gaji atau penghasilan, dan mobil impian.
‎
‎Dari riuhnya cerita orang-orang, saya sedikit tersenyum tipis "Apakah semua ini  dulu didapatkan dengan mudah dari keluarga atau ada satu generasi yang mulai dari nol kemudian berjuang keras untuk mendapatkan kenyamanan fasilitas sehingga anak cucunya menikmati hari ini?"
‎
‎Semua fasilitas yang saya lihat hari ini, menimbulkan semacam kesenjangan dalam pergaulan. Saya menyebutnya sebagai Earning Power Effect yang terinspirasi dari kanal YouTube Theo Derick yang membicarakan tentang finansial dengan pendekatan realistis.
‎
‎
‎Earning power effect adalah sebuah kondisi di mana kekuatan atau fondasi finansial sebuah keluarga secara langsung membentuk gaya hidup, pola pikir, dan interaksi sosial anak-anak mereka. Saya melihatnya bahkan merasakannya cukup jelas dan menurut saya menciptakan dua realitas yang berjalan beriringan: realitas di dalam privilege (internal), dan realitas dari kacamata mereka yang berada di luarnya (eksternal).
‎
‎Sudut Pandang Internal: Melompat Tanpa Harus Mulai dari Nol
‎
‎Bagi anak yang lahir dan tumbuh di bawah payung earning power effect yang kuat, hidup memiliki ritme yang berbeda. Ketika banyak anak muda seusianya sedang berjibaku dengan quarter-life crisis, sibuk mengasah keterampilan agar lebih menarik di dunia kerj. Kemudian setelah bekerja menabung dari gaji ke gaji, dan membebani diri dengan target pencapaian umur 25 harus punya A, umur 27 harus punya B. Ada sebagian anak bebas dari tekanan tersebut.
‎
‎Mengapa? Karena fondasinya sudah dibangun dengan kokoh oleh orang tua atau keluarganya.
‎
‎Mereka tidak perlu merasakan fase "berdarah-darah" memulai segala sesuatunya dari nol. Fasilitas kehidupan dari pendidikan terbaik, akses kesehatan, hingga kenyamanan tempat tinggal dan kendaraan sudah tersedia sebagai default setting dalam hidup mereka. Mereka tidak perlu membayangkan betapa beratnya mencicil rumah kecil di kampung, karena rumah peninggalan keluarga yang nyaman sudah menanti, bahkan alat atau modal usahanya sudah disiapkan. Tinggal jalan dan konsisten.
‎
‎Bagi mereka, uang bukanlah alat untuk sekadar bertahan hidup, melainkan alat untuk mengeksplorasi gaya hidup, bersenang-senang atau sekedar menjamu hobi.
‎
‎Sudut Pandang Eksternal: Realitas yang Bikin "Minder"
‎
‎Lalu, bagaimana rasanya berada di sekitar mereka? Di sinilah gesekan sosial sering kali terjadi secara langsung yang hanya bisa dirasakan dari sinyal hati dan pikiran.
‎
‎Dari sudut pandang eksternal yakni teman-teman sepergaulan yang membangun hidupnya dari nol earning power effect sering kali menciptakan jurang tak terlihat. Ada perasaan minder, merasa tidak cocok, atau bahkan merasa "tidak selevel" saat harus bergaul.
‎
‎Muncul semacam rasa malu atau insecure yang membelenggu. Bayangkan saja, hal-hal yang harus diperjuangkan mati-matian oleh seseorang; lembur setiap minggu demi membeli motor matic, atau berhemat ekstrem demi mengontrak rumah yang layak, bisa didapatkan dengan sangat mudah oleh teman yang memiliki earning power effect.ini.
‎
‎Kontras ini sering kali terekam dalam hal-hal sederhana: rumah yang biasa saja vs rumah keluarga yang tertata rapih, motor second yang sering mogok vs mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
‎
‎Jurang ini tidak jarang membuat lingkungan pertemanan menjadi canggung. Bukan karena si anak berada itu sombong, melainkan karena teman-temannya mundur perlahan, merasa gaya hidup dan bahan obrolan mereka sudah tidak lagi beririsan.
‎
‎Tembok Kelas Sosial menjadi Romansa
‎
‎Dampak earning power effect ini menjadi semakin kompleks ketika masuk ke ranah asmara. Mari ambil contoh seorang laki-laki yang sedang mencoba mendekati seorang perempuan. Sang laki-laki mungkin memiliki potensi besar, pekerja keras, dan punya visi ke depan. Namun, ketika ia menyadari bahwa perempuan yang ditaksirnya berasal dari keluarga dengan fondasi finansial yang sangat bagus langkahnya sering kali terhenti sebelum dimulai.
‎
‎Ada ketakutan bahwa ia tidak akan mampu "mengimbangi" gaya hidup perempuan tersebut. Bagaimana ia mau mengajak kencan di tempat makan favoritnya, jika sang perempuan terbiasa makan malam di restoran yang harga satu porsinya setara dengan biaya makan si laki-laki seminggu?
‎
‎Kelas sosial yang berbeda ini memunculkan rasa minder yang luar biasa. Sang laki-laki akhirnya memilih mundur teratur, merasa bahwa fasilitas hidup dan standar kenyamanan yang dimiliki perempuan tersebut berada di luar jangkauannya saat ini. Earning power effect dalam hal ini tanpa sengaja berubah menjadi filter seleksi alam yang kejam.
‎
‎Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa Earning Power Effect adalah realitas sosial yang tidak bisa dihindari. Tidak adil untuk membenci orang atas privilege yang tidak pernah ia minta saat dilahirkan. Sama halnya, sangat wajar jika lingkungan sekitarnya merasa terintimidasi oleh perbedaan garis start yang begitu jauh.
‎
‎Fenomena ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki sirkuit balapannya masing-masing. Membandingkan keringat orang yang berlari dari garis start dengan senyum orang yang sudah lahir di dekat garis finish hanya akan menguras emosi. Yang bisa dilakukan adalah berdamai dengan posisi kita saat ini, sambil terus berjalan di lintasan kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARAH BARU PRODUSEN TAPE WONOJOYO DAN KENDALA DI DALAMNYA

Produsen Tape Wonojoyo Hampir setiap hari semenjak proker (program kerja) anjangsana UMKM berjalan, saya dan teman teman posko KKN Desa Wonojoyo kenyang dengan suguhan tape singkong. Setiap kali anjangsa ke produsen tape, tidak sedikit dari mereka memberikan produk tapenya kepada kami, “ini untuk jajan teman teman di posko”, ujarnya. Ada keunikan yang saya temukan setelah mencicipi beberapa tape singkong dari berbagai produsen, diantaranya dari segi tekstur dan rasa tape. Setiap olahan tape dari setiap pelaku usaha pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda, ada tape yang memiliki tekstur empuk, pulen, sedikit lembek, dan tidak terlalu berair serta rasanya yang dominan manis dan sedikit hangat ditenggorokan saat dimakan. Disisi lain saya melihat dari segi kemasan produsen tape desa Wonojoyo terbagi menjadi dua kelomppok, yaitu menggunakan besek atau dibungkus plastik. Seperti yang kita ketahui besek merupakan .tempat atau wadah makanan yang berbentuk kotak dan terbuat dari ...

POTRET PRODUK UNGGULAN UMK DESA WONOJOYO KECAMATANGURAH - KEDIRI

Desa Wonojoyo Wonojoyo merupakan salah satu nama desa yang terletak di kecematan gurah kabupaten Kediri, desa Wonojoyo terdiri dari enam dusun diantaranya Dusun Ngrancangan, Krajan Lor, Krajan Kidul, Krajan Timur, Drangin, dan Kebonagung. Akses masuk desa Wonojoyo sangat mudah dan bisa dilalui oleh kendaraan roda dua ataupun roda empat. Jika teman teman pernah wira wiri ke simpang lima gumul atau Arc de Triompe nya Kediri kata generasi milenial, maka desa Wonojoyo berada di jalan arah Pare dari SGL (Simpang Lima Gumul). Letaknya yang cukup strategis karena dekat dengan icon kabupaten Kediri, membuat infrastruktur desa ini begitu maju. Jika kita berkunjung ke desa Wonojoyo, maka kita bisa melihat seluruh jalan desa sudah tertutup dengan aspal hitam. Masyarakatnya pun nampak banyak yang sudah sejahtera, berdasarkan pengamatan saya selama KKN mayoritas penduduk memiliki mobil dan rumah yang bisa dikatakan bagus. Ini mungkin karena sumber daya alam desa Wonojoyo yang melimpah d...

Kopi dan Monolog Soal Perempuan

‎ ‎Di tengah percakapan tentang cinta pada kalangan remaja. Ada satu sudut pandang yang menggugah penulis, yang diperah dari berbagai opini muda-mudi dan tokoh agama. Yakni bagaimana seseorang menimbang perempuan bukan sekadar dari wajahnya. Di tengah budaya yang memuja penampilan dan "standar tiktok" penulis menemukan gagasan lain yang lebih substantif; bahwa pasangan hidup ideal bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kesetaraan dalam berpikir, bertumbuh, dan beriman. Dalam seteguk kopi yang menghangatkan pikiran, terselip renungan tentang perempuan yang tidak hanya cantik, tetapi juga sekufu: sepadan dalam pendidikan, latar belakang keluarga, dan komitmen menjaga ibadah. ‎ ‎Bagi penulis, pendidikan itu menjadi cermin dari cara seseorang melihat dunia. Dalam konteks hubungan, kesetaraan pendidikan tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga membuka ruang bagi dialog yang sehat, ide-ide bertumbuh.  Pasangan yang memiliki jenjang pendidikan serupa cenderung...