Langsung ke konten utama

Kopi dan Monolog Soal Perempuan


‎Di tengah percakapan tentang cinta pada kalangan remaja. Ada satu sudut pandang yang menggugah penulis, yang diperah dari berbagai opini muda-mudi dan tokoh agama. Yakni bagaimana seseorang menimbang perempuan bukan sekadar dari wajahnya.

Di tengah budaya yang memuja penampilan dan "standar tiktok" penulis menemukan gagasan lain yang lebih substantif; bahwa pasangan hidup ideal bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kesetaraan dalam berpikir, bertumbuh, dan beriman. Dalam seteguk kopi yang menghangatkan pikiran, terselip renungan tentang perempuan yang tidak hanya cantik, tetapi juga sekufu: sepadan dalam pendidikan, latar belakang keluarga, dan komitmen menjaga ibadah.
‎Bagi penulis, pendidikan itu menjadi cermin dari cara seseorang melihat dunia. Dalam konteks hubungan, kesetaraan pendidikan tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga membuka ruang bagi dialog yang sehat, ide-ide bertumbuh. 

Pasangan yang memiliki jenjang pendidikan serupa cenderung berpikir dalam struktur yang tertata. Pendidikan menjadi modal penting untuk membentuk pola pikir yang sistematis, logis, dan terbuka terhadap perbedaan. Di sanalah pondasi keluarga modern seharusnya dibangun. Pada kemampuan dua insan untuk berdiskusi, menjadi problem solver satu sama lain, dan saling melengkapi. Dalam pandangan semacam ini, gelar bukan simbol status, melainkan indikator kesetaraan dalam cara berpikir.
‎Tapi kesetaraan tidak sampai di ranah intelektual. Latar belakang keluarga juga menjadi elemen penting dalam membangun keharmonisan. Keluarga adalah ruang pertama seseorang belajar tentang nilai, cara menghormati, dan bagaimana menyikapi perbedaan. Dua keluarga yang berasal dari lingkungan sosial yang tidak terlalu jauh cenderung lebih mudah menemukan titik temu. 

Dalam masyarakat Indonesia yang masih memegang kuat ikatan kekeluargaan, keseimbangan ini bukan sekadar formalitas, tetapi juga bagian dari menjaga perasaan orang tua dan keharmonisan dua pihak. Perbedaan yang terlalu lebar kerap menimbulkan rasa canggung, bahkan dalam hal-hal kecil seperti tata krama, kebiasaan, atau cara berkomunikasi. Dengan latar keluarga yang seimbang, setiap pihak dapat merasa dihargai tanpa ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.
‎Kumudian pada aspek religiusitas, akan menuntun pada hubungan. Pada dewasa ini, penulis mendapatkan nasihat dari tokoh agama, seorang Kyai Kampung bahwa ukuran agama yang menjadi tolak ukur penting dalam mencari pasangan adalah bagaimana ia berusaha menjaga sholat lima waktunya. Hemat penulis, kata “berusaha” di sini memiliki makna yang sangat manusiawi mengandung pengakuan bahwa tidak semua orang sempurna, tetapi setiap orang bisa berproses. Ketika dua individu sama-sama berusaha memperbaiki ibadahnya, keduanya sedang belajar menumbuhkan ketenangan yang sama, bukan dalam kesempurnaan, tetapi dalam usaha bersama menuju kebaikan. 
‎Jadi, kriteria dalam mencari pasangan hidup, sebetulnya cukup sederhana, hanya saja kita terbawa oleh trend dan ekspektasi. Pada akhirnya kita akan menemukan keseimbangan dalam melihat pasangan hidup. Hubungan yang baik ibarat secangkir kopi yang diracik dengan seimbang: ada pahit, ada manis, tetapi keduanya saling melengkapi hingga menciptakan rasa yang utuh.
‎Anjayyyy....
‎Terimakasih semoga bermanfaat 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung dan Cerita yang Tak Pernah Selesai

Bulan Juni 2025 menjadi bulan yang tak akan saya lupakan. Karena untuk kali pertama saya tumbuh dalam lingkungan profesional dan suportif. Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari sebuah Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang diselenggarakan oleh salah satu bank daerah. Diselenggarakan secara hybrid; dua hari daring dan enam hari luring di Kota Bandung. Pelatihan ini mempertemukan ilmu, pertemuan, cerita, dan candu. Yah, itulah gambaran yang menurut saya tepat, bukan lebay dan sebagainya. Entah sugesti atau tidak, hari-hari selama diklat seolah mengalir cepat. Pada hari pertama, kami adalah orang asing, hanya mengal nama lewat ruang virtual, belum pernah bertemu sama sekali, sedikit canggung. Tapi itulah awal cerita indah dimulai, seiring berjalannya waktu, segala kecanggungan itu memudar. Ungkapan "tak kenal maka tak sayang" bukan sekadar template saat ingin perkenalan. Hal ini saya rasakan, dalam waktu singkat, kami belajar untuk saling memahami, tertawa b...

ARAH BARU PRODUSEN TAPE WONOJOYO DAN KENDALA DI DALAMNYA

Produsen Tape Wonojoyo Hampir setiap hari semenjak proker (program kerja) anjangsana UMKM berjalan, saya dan teman teman posko KKN Desa Wonojoyo kenyang dengan suguhan tape singkong. Setiap kali anjangsa ke produsen tape, tidak sedikit dari mereka memberikan produk tapenya kepada kami, “ini untuk jajan teman teman di posko”, ujarnya. Ada keunikan yang saya temukan setelah mencicipi beberapa tape singkong dari berbagai produsen, diantaranya dari segi tekstur dan rasa tape. Setiap olahan tape dari setiap pelaku usaha pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda, ada tape yang memiliki tekstur empuk, pulen, sedikit lembek, dan tidak terlalu berair serta rasanya yang dominan manis dan sedikit hangat ditenggorokan saat dimakan. Disisi lain saya melihat dari segi kemasan produsen tape desa Wonojoyo terbagi menjadi dua kelomppok, yaitu menggunakan besek atau dibungkus plastik. Seperti yang kita ketahui besek merupakan .tempat atau wadah makanan yang berbentuk kotak dan terbuat dari ...

Antara Pacar dan Pasangan: Sebuah Dialegtika Dalam Percakapan Remaja

Pacar kamu orang mana ? Begitulah kalimat yang sering saya terima belakangan ini. Sederhana namun membuat saya termenung. Hal ini juga yang akhirnya membuat tulisan ini lahir. Saya melalui masa remaja sama seperti anak muda lainnya; diwarnai dengan cinta dan perempuan. Dua setengah tahun saya belajar mengenal cinta, yakni melalui pacaran. Saya merasakan kasmaran, cemburu, sakit hati, khawatir dan sebagainya. Waktu itu, semangat yang mendesak saya untuk menyatakan cinta adalah ingin merasakan secara langsung bagaimana mencintai seorang perempuan. Dua setengah tahun bukan waktu yang singkat. Saya sudah mencapai tujuan saya, yakni mengenal dan merasakan langsung cinta. Sedari awal saya tidak memliki niat lain, cukup ingin tahu dan belajar soal cinta dan perempuan. Singkat waktu dalam perjalanan hidup hingga saat ini. Saya berjumpa dengan banyak orang, mereka hebat dan inspiratif. Mulai dari akademi, agamis, hingga orang biasa. Mereka membagikan kisah cinta dengan pasangan, bag...