Langsung ke konten utama

Bandung dan Cerita yang Tak Pernah Selesai


Bulan Juni 2025 menjadi bulan yang tak akan saya lupakan. Karena untuk kali pertama saya tumbuh dalam lingkungan profesional dan suportif. Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari sebuah Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang diselenggarakan oleh salah satu bank daerah. Diselenggarakan secara hybrid; dua hari daring dan enam hari luring di Kota Bandung. Pelatihan ini mempertemukan ilmu, pertemuan, cerita, dan candu. Yah, itulah gambaran yang menurut saya tepat, bukan lebay dan sebagainya.

Entah sugesti atau tidak, hari-hari selama diklat seolah mengalir cepat. Pada hari pertama, kami adalah orang asing, hanya mengal nama lewat ruang virtual, belum pernah bertemu sama sekali, sedikit canggung. Tapi itulah awal cerita indah dimulai, seiring berjalannya waktu, segala kecanggungan itu memudar. Ungkapan "tak kenal maka tak sayang" bukan sekadar template saat ingin perkenalan. Hal ini saya rasakan, dalam waktu singkat, kami belajar untuk saling memahami, tertawa bersama, saling ledek, hingga akhirnya membangun ikatan emosional. Saya tidak bisa menyebutnya teman, saya merasakannya seperti saudara. 

Ada satu ruang yang menjadi saksi banyak hal: ruang makan. Di sinilah percakapan mengalir paling jujur. Meja makan kami menjadi tempat berbagi banyak hal: cerita pribadi, harapan, candaan receh, bahkan perasaan diam-diam yang mulai tumbuh wkwkw. Di antara piring-piring yang penuh nasi dan lauk, gelas dan tumbler yang kembali terisi. Cinta dan persahabatan perlahan lahir.  Dalam kegiatan Diklat ini, perempuan lebih mendominasi, sehingga wajar,sebagai manusia rasa tertarik, kagum, dan ingin mengenal lebih dalam muncul begitu saja. Meski hanya bisa disampaikan lewat tawa dan curi-curi pandang.

Semakin hari, semakin dalam keterikatan itu. Rasanya seperti sedang memulai hidup baru. Meski awalnya hanya berniat belajar dan menambah wawasan, nyatanya saya justru mendapatkan lebih dari itu. Saya mendapatkan orang-orang hebat yang akan selalu saya ingat. Kami duduk bersama setiap hari, mengikuti materi, menyimak narasumber, saling mendukung saat ada presentasi, hingga tertawa lepas saat makan, selesai materi, dan malam mulai datang.

Namun sayangnya, tak ada yang abadi. Hari keenam datang terlalu cepat. Kami terpaksa berkemas dan kembali ke kantor masing-masing. Rasanya belum puas tertawa bersama, belum puas mengenal satu sama lain. Suasana Bandung, udara paginya, suasana kelas, bahkan lelahnya mendengarkan pemateri berceramah, lalu mengerjakan tes. Semua itu kini berubah menjadi estafet rindu yang ingin segera dipertemukan kembali.

Kini cerita itu tak pernah selesai, grup WhatsApp menjadi tempat nongkrong virtual kami, saling menyapa; Rindu bercanda saat sarapan. Rindu momen-momen saat coffee break yang mungkin terlihat sepele, dan masih banyak lagi. Semoga dipertemukan dalam hal baik selanjutnya.

Karena Bandung, dan semua yang terjadi di dalamnya, telah menjadi bagian dari cerita yang tak pernah selesai.

Selamat beristirahat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ARAH BARU PRODUSEN TAPE WONOJOYO DAN KENDALA DI DALAMNYA

Produsen Tape Wonojoyo Hampir setiap hari semenjak proker (program kerja) anjangsana UMKM berjalan, saya dan teman teman posko KKN Desa Wonojoyo kenyang dengan suguhan tape singkong. Setiap kali anjangsa ke produsen tape, tidak sedikit dari mereka memberikan produk tapenya kepada kami, “ini untuk jajan teman teman di posko”, ujarnya. Ada keunikan yang saya temukan setelah mencicipi beberapa tape singkong dari berbagai produsen, diantaranya dari segi tekstur dan rasa tape. Setiap olahan tape dari setiap pelaku usaha pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda, ada tape yang memiliki tekstur empuk, pulen, sedikit lembek, dan tidak terlalu berair serta rasanya yang dominan manis dan sedikit hangat ditenggorokan saat dimakan. Disisi lain saya melihat dari segi kemasan produsen tape desa Wonojoyo terbagi menjadi dua kelomppok, yaitu menggunakan besek atau dibungkus plastik. Seperti yang kita ketahui besek merupakan .tempat atau wadah makanan yang berbentuk kotak dan terbuat dari ...

POTRET PRODUK UNGGULAN UMK DESA WONOJOYO KECAMATANGURAH - KEDIRI

Desa Wonojoyo Wonojoyo merupakan salah satu nama desa yang terletak di kecematan gurah kabupaten Kediri, desa Wonojoyo terdiri dari enam dusun diantaranya Dusun Ngrancangan, Krajan Lor, Krajan Kidul, Krajan Timur, Drangin, dan Kebonagung. Akses masuk desa Wonojoyo sangat mudah dan bisa dilalui oleh kendaraan roda dua ataupun roda empat. Jika teman teman pernah wira wiri ke simpang lima gumul atau Arc de Triompe nya Kediri kata generasi milenial, maka desa Wonojoyo berada di jalan arah Pare dari SGL (Simpang Lima Gumul). Letaknya yang cukup strategis karena dekat dengan icon kabupaten Kediri, membuat infrastruktur desa ini begitu maju. Jika kita berkunjung ke desa Wonojoyo, maka kita bisa melihat seluruh jalan desa sudah tertutup dengan aspal hitam. Masyarakatnya pun nampak banyak yang sudah sejahtera, berdasarkan pengamatan saya selama KKN mayoritas penduduk memiliki mobil dan rumah yang bisa dikatakan bagus. Ini mungkin karena sumber daya alam desa Wonojoyo yang melimpah d...

Kopi dan Monolog Soal Perempuan

‎ ‎Di tengah percakapan tentang cinta pada kalangan remaja. Ada satu sudut pandang yang menggugah penulis, yang diperah dari berbagai opini muda-mudi dan tokoh agama. Yakni bagaimana seseorang menimbang perempuan bukan sekadar dari wajahnya. Di tengah budaya yang memuja penampilan dan "standar tiktok" penulis menemukan gagasan lain yang lebih substantif; bahwa pasangan hidup ideal bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kesetaraan dalam berpikir, bertumbuh, dan beriman. Dalam seteguk kopi yang menghangatkan pikiran, terselip renungan tentang perempuan yang tidak hanya cantik, tetapi juga sekufu: sepadan dalam pendidikan, latar belakang keluarga, dan komitmen menjaga ibadah. ‎ ‎Bagi penulis, pendidikan itu menjadi cermin dari cara seseorang melihat dunia. Dalam konteks hubungan, kesetaraan pendidikan tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga membuka ruang bagi dialog yang sehat, ide-ide bertumbuh.  Pasangan yang memiliki jenjang pendidikan serupa cenderung...