Langsung ke konten utama

Antara Pacar dan Pasangan: Sebuah Dialegtika Dalam Percakapan Remaja

Pacar kamu orang mana ?
Begitulah kalimat yang sering saya terima belakangan ini. Sederhana namun membuat saya termenung. Hal ini juga yang akhirnya membuat tulisan ini lahir.

Saya melalui masa remaja sama seperti anak muda lainnya; diwarnai dengan cinta dan perempuan. Dua setengah tahun saya belajar mengenal cinta, yakni melalui pacaran. Saya merasakan kasmaran, cemburu, sakit hati, khawatir dan sebagainya. Waktu itu, semangat yang mendesak saya untuk menyatakan cinta adalah ingin merasakan secara langsung bagaimana mencintai seorang perempuan.

Dua setengah tahun bukan waktu yang singkat. Saya sudah mencapai tujuan saya, yakni mengenal dan merasakan langsung cinta. Sedari awal saya tidak memliki niat lain, cukup ingin tahu dan belajar soal cinta dan perempuan.

Singkat waktu dalam perjalanan hidup hingga saat ini. Saya berjumpa dengan banyak orang, mereka hebat dan inspiratif. Mulai dari akademi, agamis, hingga orang biasa. Mereka membagikan kisah cinta dengan pasangan, bagaimana cinta dapat membuka rahmat dan harapan. 

Ada banyak juga yang membagikan kisah hidupnya soal cinta. Terakhir hati saya menangis mendengarkan perjuangan seorang pemuda yang memiliki niat baik untuk menikah dengan perempuan pilihannya. Berjuang diantara keadaan yang sulit; ekonomi labil, kedua orang tua sudah wafat, bahkan kegagalannya pada setiap harapan. 

Dari kisah dan perjalanan hidup orang yang saya temui, akhirnya membentuk sudut pandang baru soal cinta. Dewasa kini membawa saya pada sudut pandang baru soal perempuan, yakni bukan soal pacar, melainkan pasangan. 

Pasangan dan Pacar
Kata “pacar” dan “pasangan” sering terdengar mirip. Sama-sama berhubungan dengan rasa suka, cinta, dan kebersamaan. Saya awalnya berpikir seperti itu. Tetapi saya banyak mendengarkan cerita dan nasihat orang, akhirnya saya menyadari keduanya mempunyai perbedaan mendasar. Pacar sering kali dipahami sebagai fase awal dalam hubungan, sekadar menyenangkan hati atau mengisi kekosongan. Sedangkan pasangan, lebih dari itu, ia adalah seseorang yang dipilih dengan kesadaran penuh untuk menempuh jalan panjang kehidupan bersama.

Sekarang, untuk menjawab pertanyaan diawal artikel ini. Saya akhirnya sampai pada satu pertanyaan; kita ini sebenarnya mencari pacar atau pasangan?

Niat
Perbedaan paling mendasar terletak pada niat. Orang yang mencari pasangan biasanya sudah menanamkan niat membangun rumah tangga. Saya sering mendengar kisah cinta orang-orang dekat, kisah cinta mereka akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa hubungan bukan hanya tentang kesenangan sesaat, melainkan jalan menuju kehidupan baru yang penuh tanggung jawab. Dari pengalaman mereka soal asmara, pada fase berikutnya akan tumbuh niat untuk membangun rumah tangga yang secara implisit tertanam sebagai pandangan dasar. Sementara pacar tidak selalu demikian. Banyak orang berpacaran tanpa tujuan jelas, saya pikir hanya mengikuti perasaan suka atau sekadar ingin ditemani. Hubungan semacam ini cenderung rapuh karena tidak ada arah yang dituju.


Landasan Agama
Jika ditinjau dari sisi agama, pasangan jelas memiliki pijakan yang kuat. Dalam Al-Qur’an, Allah berulang kali menyebut manusia diciptakan berpasang-pasangan, salah satunya dalam surat An-Nisa ayat 1. Saya menyadari ini ketika menjadi pembawa acara di pernikahan teman. Kemudian saya mulai merenung, melihat kisah asmara orang lain. Konsep pasangan bukan hanya diakui, tetapi juga diberkahi. Sebaliknya, istilah pacar tidak pernah disebutkan. Ini menunjukkan bahwa pasangan adalah sesuatu yang terikat nilai spiritual dan hubungan yang suci, sementara pacar lebih merupakan istilah sosial modern yang tidak memiliki legitimasi yang sama.


Persiapan
Orang yang mencari pasangan biasanya sudah lebih siap dalam banyak hal. Saya tidak hanya asal bicara, saya banyak mendapatkan nasihat dan kisah perjalanan membangun rumah tangga, mereka menyiapkan diri secara ekonomi, karena sadar bahwa rumah tangga butuh pondasi finansial. Mereka juga belajar mengendalikan emosi, sebab hidup berdua tidak selalu berjalan mulus. Sebab setiap orang antara laki-laki dan perempuan memiliki kebiasaan, sifat, karakter yang berbeda. Kemudian mereka disatukan melalui pernikahan, itu sangat mungkin terjadi perbedaan pendapat. Selain itu, mereka berusaha memahami hak dan kewajiban sebagai suami atau istri. Sebaliknya, berpacaran sering kali tidak menuntut persiapan serius. Cukup ada rasa suka, maka hubungan bisa dijalani, walaupun tanpa bekal masa depan.

Keseriusan dalam Komitmen
Pacar bisa datang dan pergi. Hari ini bersama satu orang, esok mungkin sudah bersama yang lain. Tidak ada ikatan yang mengikat kecuali rasa suka yang bisa berubah sewaktu-waktu. Sedangkan pasangan dipahami sebagai seseorang yang benar-benar dipilih untuk menemani hidup dalam jangka panjang. Di dalamnya ada komitmen, ada janji, ada keberanian untuk menghadapi konflik. Karena pernikahan itu adalah "mishaqon gholidzon" yakni perjanjian agung antara dua orang; laki-laki dan perempuan dengan Allah SWT. Karena itu, pasangan cenderung memberi rasa aman dan stabil dibanding sekadar pacar.


Pandangan Sosial
Terakhir, menurut saya walaupun pacaran sering dianggap hal yang wajar di kalangan anak muda. Tapi di fase saya saat ini, pacaran hanya membuang waktu dan membuka celah pada hal-hal yang tidak diinginkan. Sebaliknya, mencari pasangan dipandang lebih terhormat. Orang yang berani mengaku sedang mencari pasangan dianggap lebih dewasa dan bertanggung jawab. Lingkungan pun cenderung memberikan dukungan, karena ada kesungguhan dan kejelasan arah di dalamnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung dan Cerita yang Tak Pernah Selesai

Bulan Juni 2025 menjadi bulan yang tak akan saya lupakan. Karena untuk kali pertama saya tumbuh dalam lingkungan profesional dan suportif. Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari sebuah Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang diselenggarakan oleh salah satu bank daerah. Diselenggarakan secara hybrid; dua hari daring dan enam hari luring di Kota Bandung. Pelatihan ini mempertemukan ilmu, pertemuan, cerita, dan candu. Yah, itulah gambaran yang menurut saya tepat, bukan lebay dan sebagainya. Entah sugesti atau tidak, hari-hari selama diklat seolah mengalir cepat. Pada hari pertama, kami adalah orang asing, hanya mengal nama lewat ruang virtual, belum pernah bertemu sama sekali, sedikit canggung. Tapi itulah awal cerita indah dimulai, seiring berjalannya waktu, segala kecanggungan itu memudar. Ungkapan "tak kenal maka tak sayang" bukan sekadar template saat ingin perkenalan. Hal ini saya rasakan, dalam waktu singkat, kami belajar untuk saling memahami, tertawa b...

ARAH BARU PRODUSEN TAPE WONOJOYO DAN KENDALA DI DALAMNYA

Produsen Tape Wonojoyo Hampir setiap hari semenjak proker (program kerja) anjangsana UMKM berjalan, saya dan teman teman posko KKN Desa Wonojoyo kenyang dengan suguhan tape singkong. Setiap kali anjangsa ke produsen tape, tidak sedikit dari mereka memberikan produk tapenya kepada kami, “ini untuk jajan teman teman di posko”, ujarnya. Ada keunikan yang saya temukan setelah mencicipi beberapa tape singkong dari berbagai produsen, diantaranya dari segi tekstur dan rasa tape. Setiap olahan tape dari setiap pelaku usaha pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda, ada tape yang memiliki tekstur empuk, pulen, sedikit lembek, dan tidak terlalu berair serta rasanya yang dominan manis dan sedikit hangat ditenggorokan saat dimakan. Disisi lain saya melihat dari segi kemasan produsen tape desa Wonojoyo terbagi menjadi dua kelomppok, yaitu menggunakan besek atau dibungkus plastik. Seperti yang kita ketahui besek merupakan .tempat atau wadah makanan yang berbentuk kotak dan terbuat dari ...