Kita sepakat bahwa nongkrong di kalangan anak muda menjadi semacam tradisi yang lazim. Nongkrong adalah istilah yang dipakai untuk mewakili kegiatan berkumpul anak remaja dalam berbagai aktivitas; minum kopi, bercengkrama, mabar game online, atau sekadar ngobrol santai dan sebagainya. Satu hal yang tak boleh ketinggalan dari semua itu adalah kopi. Kopi seolah menjadi “dopamin” di sebuah tongkrongan, memantik bahan pembicaraan dan ide. Bagi sebagian orang, tongkrongan tanpa kopi layaknya makan nasi goreng tanpa kerupuk, kurang lengkap.
Namun, di balik serunya nongkrong ada konsekuensi yang sering luput disadari. Kebiasaan pulang larut malam sudah seperti paket lengkap dari tongkrongan. Apalagi kalau obrolannya tidak selalu penting, kadang hanya ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas. Kalau sesekali mungkin tidak masalah, tapi bayangkan jika hampir setiap malam dilakukan. Tubuh jadi kurang istirahat, jam tidur berantakan, dan lama-lama bisa berdampak pada kesehatan, baik fisik maupun mental.
Di titik ini, sebagian orang mulai berpikir untuk mengurangi atau bahkan berhenti nongkrong. Bukan karena tidak suka, tapi karena ingin menjaga keseimbangan hidup. Dan ternyata, ada beberapa hal positif yang bisa didapat ketika berani mencoba berhenti nongkrong:
Pertama, upgrading knowledge. Pernah kah kita membayangkan, waktu yang biasa dihabiskan untuk nongkrong bisa dialihkan untuk menggali pengetahuan. Entah itu membaca buku, mengikuti webinar, atau mengikuti pelatihan keterampilan. Dibandingkan dengan nongkrong yang hanya sekedar berkumpul, menghabiskan secangkir kopi dan bersenda gurau. Memang tak ada yang salah, tapi jika itu sudah menyita waktu, persoalannya menjadi berbeda.
Ada semacam comfort zone yang membekukan keinginan mencoba hal baru dan eksplorasi. Kita pernah mendengar saat orang ingin fokus memperbaiki diri, muncul istilah "kurangi nongkrong" yang artinya kegiatan itu kurang baik atau tidak bisa beriringan dengan progres yang sedang kita capai.
Kedua, refreshment spiritual. Selain menaikan level pengetahuan. Saat kita mulai berhenti nongkrong, ternyata juga berdampak ke sisi spiritual. Nongkrong biasanya dimulai setelah magrib atau setelah isya hingga malam hari, bahkan pagi. Banyak waktu yang sebetulnya bisa digunakan untuk berkontemplasi atau tafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada sang pencipta.
Waktu magrib hingga isya bisa digunakan untuk tadarus, berdzikir kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan ceramah. Kemudian kita bisa muthola'ah dari pengetahuan yang didapat hari kemarin. Selain itu, tanpa nongkrong jam tidur lebih terkontrol sehingga tubuh memiliki energi untuk bangun subuh atau seperti tiga malam. Mungkin awalnya terasa berat, tapi ada ketenangan berbeda saat bisa sholat tahajud atau sekadar merenung dalam hening. Hal-hal yang jarang bisa kita dapatkan di tengah riuhnya tongkrongan.
Ketiga, morning person. Ketika malam digunakan untuk beristirahat, otomatis pagi terasa lebih segar. Kita jadi bisa bangun lebih awal, tubuh terasa bugar, dan pikiran lebih jernih. Hal-hal kecil seperti sarapan tepat waktu atau olahraga ringan bisa dilakukan tanpa terburu-buru. Semua itu berawal dari jam tidur yang teratur.
Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar