Langsung ke konten utama

Sebuah Puisi : Tangisan pendosa

Akankah terus terulang
Pemuda lugu yang saat  azdan berkumandang ia kerap menghilang
Pergi memasuki belantara untuk bertualang

Matanya tajam seperti elang
Otaknya cerdik seperti kancil namun 
Sayang ia kehilangan arah pulang sebab hatinya tertutup ilalang

Saat semua itu terjadi, kesadaran akan hilang
Nafsunya tinggi menjulang mengendalikan tubuh sang tualang

Saat itulah ia teringat bahwa Tuhannya maha penyayang
Menengadah di tengah sepi yang berlalu lalang
Matanya merah seolah perih terkena bawang, memang benar penyesalan muncul di belakang

Dalam tangisnya ia mengenang, ketololan dan gayanya yang usang
Membuatnya tenang
Tapi itu hanya sesaat, sebab sang tualang bodohnya tak pernah hilang

Akankah terus terulang
Pemuda lugu saat adzan berkumandang ia selalu menghilang
Jiwanya seperti binatang jalang
Hatinya merintih tak pernah tenang

Berteriak memohon diberikan petunjuk yang telah hilang
Berharap supaya ia tenang saat pulang
Tapi sekali lagi tololnya tak pernah hilang

Akhirnya terus terulang
Pemuda yang tak lagi lugu, tapi belagu meyakini Tuhannya maha penyayang
Tapi ia lupa bahwa ada hisab saat dirinya pulang

Kamar ku, 2 Februari 2023

Komentar