Langsung ke konten utama

Renungan Malam : Stempel Bertinta Emas


Pada dewasa ini, sadar atau tidak sadar kita telah dipertontonkan dengan drama perebutan stempel. Dalam drama tersebut ada berbagai macam orang yang memerankan peran sebagai rakyat biasa, pejabat, orang kaya, orang miskin, raja dan lain sebagainya. Dengan berbagai macam cara mereka lakukan untuk mendapatkan stempel tersebut. Stempel hitam putih yang mampu mengangkat status seseorang. Atau menjadi pertanda bahwa aku adalah orang ekslusif. Tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan ku. 

Namun nyatanya stempel itu hanya sebatas atribut. Mereka tidak begitu peduli pada esensi yang ada di dalam stempel yang mereka miliki tersebut. Banyak juga yang memamerkan stempelnya supaya dihormati dan disegani orang lain. Atau menggunakan stempel tersebut untuk mempermudah kepentingannya sendiri. Stempel dengan tinta emas sehingga banyak orang gila yang bertaruh dan berebut untuk memilikinya. 

Ada sebuah perbedaan antara orang yang meminta stempel dengan orang yang diberikan stempel. Secara kualitas mesti sangat jauh berbeda. Orang yang meminta stempel akan selalu mengandalkan kekuatan materinya dan landasan berpikirnya dibangun oleh ego semata. Sedangkan orang yang diberikan stempel berangkat dari dedikasi dan komitmennya. Dan kadang memerlukan waktu yang lama. Sehingga orang bisa melihat dulu hasilnya. Seiring dengan keinginan manusia yang serba cepat. Bukan tidak mungkin stempel bisa diperjual belikan dengan bebas secara terselundup di pasar gelap (Black market) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung dan Cerita yang Tak Pernah Selesai

Bulan Juni 2025 menjadi bulan yang tak akan saya lupakan. Karena untuk kali pertama saya tumbuh dalam lingkungan profesional dan suportif. Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari sebuah Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang diselenggarakan oleh salah satu bank daerah. Diselenggarakan secara hybrid; dua hari daring dan enam hari luring di Kota Bandung. Pelatihan ini mempertemukan ilmu, pertemuan, cerita, dan candu. Yah, itulah gambaran yang menurut saya tepat, bukan lebay dan sebagainya. Entah sugesti atau tidak, hari-hari selama diklat seolah mengalir cepat. Pada hari pertama, kami adalah orang asing, hanya mengal nama lewat ruang virtual, belum pernah bertemu sama sekali, sedikit canggung. Tapi itulah awal cerita indah dimulai, seiring berjalannya waktu, segala kecanggungan itu memudar. Ungkapan "tak kenal maka tak sayang" bukan sekadar template saat ingin perkenalan. Hal ini saya rasakan, dalam waktu singkat, kami belajar untuk saling memahami, tertawa b...

Antara Pacar dan Pasangan: Sebuah Dialegtika Dalam Percakapan Remaja

Pacar kamu orang mana ? Begitulah kalimat yang sering saya terima belakangan ini. Sederhana namun membuat saya termenung. Hal ini juga yang akhirnya membuat tulisan ini lahir. Saya melalui masa remaja sama seperti anak muda lainnya; diwarnai dengan cinta dan perempuan. Dua setengah tahun saya belajar mengenal cinta, yakni melalui pacaran. Saya merasakan kasmaran, cemburu, sakit hati, khawatir dan sebagainya. Waktu itu, semangat yang mendesak saya untuk menyatakan cinta adalah ingin merasakan secara langsung bagaimana mencintai seorang perempuan. Dua setengah tahun bukan waktu yang singkat. Saya sudah mencapai tujuan saya, yakni mengenal dan merasakan langsung cinta. Sedari awal saya tidak memliki niat lain, cukup ingin tahu dan belajar soal cinta dan perempuan. Singkat waktu dalam perjalanan hidup hingga saat ini. Saya berjumpa dengan banyak orang, mereka hebat dan inspiratif. Mulai dari akademi, agamis, hingga orang biasa. Mereka membagikan kisah cinta dengan pasangan, bag...

POTRET PRODUK UNGGULAN UMK DESA WONOJOYO KECAMATANGURAH - KEDIRI

Desa Wonojoyo Wonojoyo merupakan salah satu nama desa yang terletak di kecematan gurah kabupaten Kediri, desa Wonojoyo terdiri dari enam dusun diantaranya Dusun Ngrancangan, Krajan Lor, Krajan Kidul, Krajan Timur, Drangin, dan Kebonagung. Akses masuk desa Wonojoyo sangat mudah dan bisa dilalui oleh kendaraan roda dua ataupun roda empat. Jika teman teman pernah wira wiri ke simpang lima gumul atau Arc de Triompe nya Kediri kata generasi milenial, maka desa Wonojoyo berada di jalan arah Pare dari SGL (Simpang Lima Gumul). Letaknya yang cukup strategis karena dekat dengan icon kabupaten Kediri, membuat infrastruktur desa ini begitu maju. Jika kita berkunjung ke desa Wonojoyo, maka kita bisa melihat seluruh jalan desa sudah tertutup dengan aspal hitam. Masyarakatnya pun nampak banyak yang sudah sejahtera, berdasarkan pengamatan saya selama KKN mayoritas penduduk memiliki mobil dan rumah yang bisa dikatakan bagus. Ini mungkin karena sumber daya alam desa Wonojoyo yang melimpah d...