Langsung ke konten utama

Surat Palsu Untuk Tuhan


Keadaan sulit tengah dihadapi oleh seseorang yang tidak ingin disebut namanya. Mulanya ia berjanji untuk tidak membuat drama dalam jiwanya sendiri. Janji itu ia beri stempel air mata yang keluar dari pertapaan suci tempatnya mengadu. Namun hati manusia begitu sulit ditebak. Pemuda itu telah mengingkari janji yang telah ia buat sendiri. Janji yang dibuat dengan air mata, ia rusak juga dengan air mata. 

Tidak cukup sampai disitu.  Di sepanjang hari yang kadang hujan kadang mendung. Pemuda itu kerap mengobral janjinya pada jiwa-jiwa yang gelisah. Apa yang selanjutnya Pemuda lakukan hanya akan membuat dirinya tampak baik secara lahir tetapi tidak secara batin. Pandangannya terhadap hidup dan keinginan nya untuk menjadi lebih baik kiranya perlu diapresiasi, namun tidak untuk diikuti. Begitu banyak kekeliruan yang nampak disana. 

Entah bagaimana pandangan manusia terhadapnya. Pemuda itu menghilangkan telinga dan hanya memakai hati dan kedua bola mata yang berkaca-kaca itu. Hatinya diselimuti oleh pernak-pernik kebaikan tapi tidak untuk jiwanya yang dipenuhi oleh nafsu. Oh Tuhan begitu baik engkau mau menerima surat palsu yang dikirmkan Pemuda itu. Sudah banyak notifikasi yang diberikan Tuhan sebagai teguran kepada Pemuda itu. Tapi biarlah karena ia berfikir hidup ini sudah diatur begitu sempurna dalam Lauhul Mahfudz-Nya. Sebagai pemeran ia hanya perlu memahami perannya dalam drama ini, ia hanya perlu berperan sebagaimana mestinya yang telah ditetapkan dalam buku Tuhan. 

Sampai suatu ketika Pemuda menjumpai kakek tua bernama Kakek Ila. Hati dan jiwanya mulai bergetar saat pertama kali mendengarkan nasehatnya itu. Lalu kemudian setelah proses yang begitu panjang Pemuda yang tidak ingin disebut namanya itu memutuskan untuk menata kembali apa yang ada didalam hatinya. Ia menulis kembali surat untuk Tuhan yang berisi bait-bait kegundahan dalam hatinya. Lima kali dalam sehari ia mengirimkan surat dengan harapan Tuhan membaca dan mengabulkan isi surat tersebut. Bayangkan betapa penuh nya kotak surat Tuhan hanya karena pesan dari pemuda itu. 

Bencana mulai tiba, jiwanya yang dipenuhi nafsu membuat hatinya tertutup kabut tebal. Sehingga tidak mampu untuk melihat cahaya. Pernak-pernik yang ada didalamnya masih menyala, tapi tidak untuk sekarang karena cahaya itu telah tertutup oleh nafsu. Terjadilah Perang Dunia III didalam jiwanya. Nabi pernah berkata bahwa jihad terbesar adalah memerangi hawa nafsu. Sampai sekarang perang itu masih belum selesai. Entah mau sampai kapan tidak ada yang tahu. Surat-surat yang pemuda itu tulis semakin menumpuk sampai memenuhi hatinya. Barangkali dengan segala kemahakuasaan - Nya bukan tidak mungkin dengan satu rahmat yang diturunkan Nya akan membalas dan mengabulkan tumpukan surat yang selama ini ia tulis... 

Sudut Qalbu, 22 September 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Pacar dan Pasangan: Sebuah Dialegtika Dalam Percakapan Remaja

Pacar kamu orang mana ? Begitulah kalimat yang sering saya terima belakangan ini. Sederhana namun membuat saya termenung. Hal ini juga yang akhirnya membuat tulisan ini lahir. Saya melalui masa remaja sama seperti anak muda lainnya; diwarnai dengan cinta dan perempuan. Dua setengah tahun saya belajar mengenal cinta, yakni melalui pacaran. Saya merasakan kasmaran, cemburu, sakit hati, khawatir dan sebagainya. Waktu itu, semangat yang mendesak saya untuk menyatakan cinta adalah ingin merasakan secara langsung bagaimana mencintai seorang perempuan. Dua setengah tahun bukan waktu yang singkat. Saya sudah mencapai tujuan saya, yakni mengenal dan merasakan langsung cinta. Sedari awal saya tidak memliki niat lain, cukup ingin tahu dan belajar soal cinta dan perempuan. Singkat waktu dalam perjalanan hidup hingga saat ini. Saya berjumpa dengan banyak orang, mereka hebat dan inspiratif. Mulai dari akademi, agamis, hingga orang biasa. Mereka membagikan kisah cinta dengan pasangan, bag...

Saat Kita Berhenti Nongkrong

Kita sepakat bahwa nongkrong di kalangan anak muda menjadi semacam tradisi yang lazim. Nongkrong adalah istilah yang dipakai untuk mewakili kegiatan berkumpul anak remaja dalam berbagai aktivitas; minum kopi, bercengkrama, mabar game online, atau sekadar ngobrol santai dan sebagainya. Satu hal yang tak boleh ketinggalan dari semua itu adalah kopi. Kopi seolah menjadi “dopamin” di sebuah tongkrongan, memantik bahan pembicaraan dan ide. Bagi sebagian orang, tongkrongan tanpa kopi layaknya makan nasi goreng tanpa kerupuk, kurang lengkap. Namun, di balik serunya nongkrong ada konsekuensi yang sering luput disadari. Kebiasaan pulang larut malam sudah seperti paket lengkap dari tongkrongan. Apalagi kalau obrolannya tidak selalu penting, kadang hanya ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas. Kalau sesekali mungkin tidak masalah, tapi bayangkan jika hampir setiap malam dilakukan. Tubuh jadi kurang istirahat, jam tidur berantakan, dan lama-lama bisa berdampak pada kesehatan, baik fisik m...

Kopi dan Monolog Soal Perempuan

‎ ‎Di tengah percakapan tentang cinta pada kalangan remaja. Ada satu sudut pandang yang menggugah penulis, yang diperah dari berbagai opini muda-mudi dan tokoh agama. Yakni bagaimana seseorang menimbang perempuan bukan sekadar dari wajahnya. Di tengah budaya yang memuja penampilan dan "standar tiktok" penulis menemukan gagasan lain yang lebih substantif; bahwa pasangan hidup ideal bukan hanya tentang rasa, melainkan tentang kesetaraan dalam berpikir, bertumbuh, dan beriman. Dalam seteguk kopi yang menghangatkan pikiran, terselip renungan tentang perempuan yang tidak hanya cantik, tetapi juga sekufu: sepadan dalam pendidikan, latar belakang keluarga, dan komitmen menjaga ibadah. ‎ ‎Bagi penulis, pendidikan itu menjadi cermin dari cara seseorang melihat dunia. Dalam konteks hubungan, kesetaraan pendidikan tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga membuka ruang bagi dialog yang sehat, ide-ide bertumbuh.  Pasangan yang memiliki jenjang pendidikan serupa cenderung...