Langsung ke konten utama

Minggu, Kabut, dan Mendung : Aktivitas pagi yang menyehatkan badan

Pada minggu pagi ini aku kembali berolahraga setelah beberapa bulan lamanya tidak meregangkan otot. Bersepeda pagi itu terasa mengasyikan. Cuaca sangat bersahabat sehingga aku sangat bersemangat. Langit sedikit mendung dan udara diselimuti kabut yang cukup tebal. Tepat setengah tujuh pagi aku keluar dari kontrakan ditemani teman ku yang juga sama ingin bersepeda. Awalnya rencana ini adalah idenya. Dia mengajak ku dan aku menerima tawaran tersebut. Memang sudah menjadi kebiasaan ku ketika weekend menjadi waktunya berolahraga. Langit yang mendung dan kabut yang tebal membuat suasana pagi itu terasa sejuk. Sehingga tubuh ku tidak begitu berkeringat. Walaupun sudah cukup jauh aku mengayuh sepeda. 
Awalnya aku memilih Bale Nyawidji sebagai tujuan utama. Bale Nyawidji adalah sebuah tempat untuk orang ngopi yang dikemas dengan suasana klasik. Berada di pinggir sawah yang membuat suasana menjadi asri. Aku mengetahui tempat itu dari media sosial. Tampak Bale Nyawidji begitu indah dengan pemandangan Gunung Budeg yang menjadikannya lebih sempurna. Namun tujuan ku kesana bukanlah untuk mampir dan menikmati kopi. Aku hanya ingin menikmati pemandangan Gunung Budeg dari tempat tersebut. Namun pada saat aku sampai di Bale Nyawidji pemandangan Gunung Budeg masih tertutup kabut. Biasanya jika suasana normal kita akan melihat hamparan sawah yang luas dan Gunung Budeg yang menjulang tinggi. 

Walaupun sempat kecewa karena aku tidak dapat menikmati pemandangan tersebut. Akhirnya aku dan teman ku memutuskan untuk mengunjungi tempat di sekitar Goa Selomangleng tepatnya di desa Pucungkidul. Disana lebih dekat dengan Gunung Budeg dan ada beberapa spot foto yang bagus. Selain berolahraga untuk menjaga kesehatan dan stamina tubuh, mencari foto dengan background Gunung Budeg juga tidak boleh aku lewatkan. Saat aku sampai disana kabut sudah sedikit menghilang. Tapi puncak Gunung Budeg masih berselimut kabut. Ini menjadi pemandangan yang selalu aku rindukan. Aku pun bergegas untuk mengabadikan pemandangan tersebut.
Aku tiba di desa Pucungkidul sekitar setengah delapan. Sudah banyak masyarakat yang beraktivitas di kebun. Aku pun menyapa mereka saat berpapasan. Walaupun aku tidak mengenal mereka tapi memberikan senyum dan sapaan kepada orang-orang membuat hati ku bahagia. 

Hampir dua jam lebih telah berlalu. Waktu menunjukan pukul sepuluh kurang dua puluh menit. Aku berbenah dari tempat itu. Cahaya matahari sudah cukup menyengat. Sehingga aku dan teman ku memutuskan untuk pulang. Kabut tebal yang menyelimuti Gunung Budeg juga sudah mulai hilang. Kami pulang dengan hati yang ceria dan beberapa foto yang indah. Perjalan dari desa Pucungkidul ke kontrakan memakan waktu kurang lebih satu jam empat puluh lima menit. Kaki ku sudah mulai terasa pegal untuk mengayuh. Perut juga mulai berteriak tandanya sudah lapar. Pukul sebelas siang aku tiba di kontrakan. Beristirahat sejenak dan mengeringkan keringat kemudian mandi supaya segar. Ini merupakan balasan untuk memenuhi rindu ku setiap weekend. Mumpung senggang dan tidak ada tugas. Aku memanfaatkannya untuk berolahraga.

Dari kegiatan ku minggu pagi ini. Aku merasa begitu bahagia saat bertegur sapa dengan masyarakat. Aku menyapa mereka dengan kalimat "monggo" yang jika dalam bahasa Indonesia artinya mari. Aku merasa bahagia ketika melihat mereka membalas senyuman ku. Kelihatan sederhana tapi entah mengapa hati ku senang melakukan itu. Di sepanjang perjalanan aku juga menjumpai banyak pesepeda lain. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Aku bertanya tanya dalam lubuk hati ku "Apakah ini cara orang-orang menikmati hidup? ". Menggunakan waktu sebaik mungkin dengan hal-hal positif membuat hidup terasa lebih berkualitas. Dan memang berbaur dengan masyarakat dan menjadi bagian dari mereka adalah suatu kebahagiaan kecil yang tidak semua orang bisa mendapatkanya. 

Tulungagung, 13 November 2022

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bandung dan Cerita yang Tak Pernah Selesai

Bulan Juni 2025 menjadi bulan yang tak akan saya lupakan. Karena untuk kali pertama saya tumbuh dalam lingkungan profesional dan suportif. Saya merasa beruntung bisa menjadi bagian dari sebuah Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) yang diselenggarakan oleh salah satu bank daerah. Diselenggarakan secara hybrid; dua hari daring dan enam hari luring di Kota Bandung. Pelatihan ini mempertemukan ilmu, pertemuan, cerita, dan candu. Yah, itulah gambaran yang menurut saya tepat, bukan lebay dan sebagainya. Entah sugesti atau tidak, hari-hari selama diklat seolah mengalir cepat. Pada hari pertama, kami adalah orang asing, hanya mengal nama lewat ruang virtual, belum pernah bertemu sama sekali, sedikit canggung. Tapi itulah awal cerita indah dimulai, seiring berjalannya waktu, segala kecanggungan itu memudar. Ungkapan "tak kenal maka tak sayang" bukan sekadar template saat ingin perkenalan. Hal ini saya rasakan, dalam waktu singkat, kami belajar untuk saling memahami, tertawa b...

ARAH BARU PRODUSEN TAPE WONOJOYO DAN KENDALA DI DALAMNYA

Produsen Tape Wonojoyo Hampir setiap hari semenjak proker (program kerja) anjangsana UMKM berjalan, saya dan teman teman posko KKN Desa Wonojoyo kenyang dengan suguhan tape singkong. Setiap kali anjangsa ke produsen tape, tidak sedikit dari mereka memberikan produk tapenya kepada kami, “ini untuk jajan teman teman di posko”, ujarnya. Ada keunikan yang saya temukan setelah mencicipi beberapa tape singkong dari berbagai produsen, diantaranya dari segi tekstur dan rasa tape. Setiap olahan tape dari setiap pelaku usaha pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda, ada tape yang memiliki tekstur empuk, pulen, sedikit lembek, dan tidak terlalu berair serta rasanya yang dominan manis dan sedikit hangat ditenggorokan saat dimakan. Disisi lain saya melihat dari segi kemasan produsen tape desa Wonojoyo terbagi menjadi dua kelomppok, yaitu menggunakan besek atau dibungkus plastik. Seperti yang kita ketahui besek merupakan .tempat atau wadah makanan yang berbentuk kotak dan terbuat dari ...

Antara Pacar dan Pasangan: Sebuah Dialegtika Dalam Percakapan Remaja

Pacar kamu orang mana ? Begitulah kalimat yang sering saya terima belakangan ini. Sederhana namun membuat saya termenung. Hal ini juga yang akhirnya membuat tulisan ini lahir. Saya melalui masa remaja sama seperti anak muda lainnya; diwarnai dengan cinta dan perempuan. Dua setengah tahun saya belajar mengenal cinta, yakni melalui pacaran. Saya merasakan kasmaran, cemburu, sakit hati, khawatir dan sebagainya. Waktu itu, semangat yang mendesak saya untuk menyatakan cinta adalah ingin merasakan secara langsung bagaimana mencintai seorang perempuan. Dua setengah tahun bukan waktu yang singkat. Saya sudah mencapai tujuan saya, yakni mengenal dan merasakan langsung cinta. Sedari awal saya tidak memliki niat lain, cukup ingin tahu dan belajar soal cinta dan perempuan. Singkat waktu dalam perjalanan hidup hingga saat ini. Saya berjumpa dengan banyak orang, mereka hebat dan inspiratif. Mulai dari akademi, agamis, hingga orang biasa. Mereka membagikan kisah cinta dengan pasangan, bag...